Tuesday, July 27, 2010

Mertuaku

1 comments
Aku bingung melihat sikap mertuaku padaku, akhir2 ini sering sekali dia mampir ke rumahku, terutama saat suamiku belum pulang. Tingkahnya makin menjadi2, dia selalu mengeluh padaku karena gairah sexnya tidak terpuaskan, ibu mertuaku kelihatannya sudah enggan meladeni napsu suaminya. Aku merasa dia sedang merayuku untuk mau meladeni napsunya. Aku mula2 sungkan dengan tingkahnya, tetapi karena seringnya dia melakukan hal yang sama, buatku menjadi biasa. Kalau berkunjung selalu dia membawakan sesuatu untukku, makanan, buah2an, bahkan pakaian dan sepatu. Suamiku hanya tersenyum ketika kulapori ulah bapaknya, dia bilang, itu tandanya papah sayang sama kamu.


Suatu sore mertuaku datang lagi ke rumahku, aku baru saja sampai dirumah, suamiku belum pulang, katanya malem ini dia lembur, kemungkinan malah gak pulang karena besok adalah dead line proyeknya. Mertuaku mendadak memelukku dari belakang, "Sin, kamu merangsang sekali deh". Aku terkejut dengan ulahnya yang belum pernah dilakukan, tapi aku membiarkannya saja. Aku malah merasa tersanjung dengan pujian yang jarang sekali terucap dari suamiku. "Pah, nanti dilihat orang lo, pintunya masih terbuka", kataku. Dia melepaskan pelukannya dan menutup pintu rumahku.

Dia duduk di sofa dan minta aku duduk disampingnya, ketika aku duduk dia segera memeluk dan bibirnya langsung menyambar bibirku. Aku kaget tapi akhirnya larut dalam lumatan bibirnya yang ganas, lidahnya menyusup ke dalam mulutku dan melilit lidahku, spontan aku membalas aksinya dengan menyambut ciuman ganasnya, akupun mengemut lidahnya yang menari2 didalam mulutku. "Papah nekatt.." kataku. "Abisnya kamu ngegemesin sih.." Kembali dia mencium bibirku, tangannya kali ini menggerayangi tetekku, diremas2nya pelan2 sehingga aku mulai terhanyut oleh napsuku yang mulai berkobar. Jemarinya menyusuri pahaku, menyingkap rokku ke atas, sehingga terpampanglah pahaku, dia tambah bernapsu. Sambil terus mengulum bibirku, tangannya mengelus pahaku makin keatas sehingga rokku makin tersingkap, sampai jarinya menyentuh bukit mekiku. Otomatis pahaku merenggang memberi kesempatan jemarinya untuk bermain lebih leluasa di bukit mekiku. Terasa jari nakalnya mulai menyusup kedalam CD ku dan mengilik itilku, aku menggelinjang, napsuku makin berkobar saja. "Pah, aah", erangku. "kenapa Sin, kamu dah napsu ya, ke kamar yuk biar lebih asik", jawabnya sambil bangkit dan setengah menyeretku ke kamar. Aku hanya ngikut saja ketika dia menarikku ke kamar, kewarasanku sudah tertutupi napsuku yang berkobar, napsuku yang memaksaku mengikuti kehendak mertuaku karena dorongan keinginan merasakan kepuasan di ranjang yang jarang sekali aku peroleh.

Di kamar, langsung saja aku ditelanjanginya, bibirku diciuminya sambil meremas2 tetekku yang sudah mengeras, pentilku di pilin2nya, aku hanya bisa ber ah uh karena rangsangan yang luar biasa itu. Aku malah mengimbangi ciuman ganasnya, aku ditariknya ke ranjang. Pentilku langsung diserbunya, diemut2nya dengan rakusnya sehingga pentilku langsung mengeras, sementara itu tetekku terus saja diremas2nya. Puas mengemut pentilku, jilatan lidahnya turun ke arah perutku, terus ke bawah lagi dan mampir di mekiku. Lidahnya segera membelah bibir mekiku dan menjilati itilku, aku mengangkangkan pahaku sehingga mempermudah dia menggarap itilku. Aku mulai mengerang2 saking nikmatnya yang melanda tubuhku. "Aasshhg.. hngghh.. ssshhhg.." badanku melintir, bergeliat-geliat oleh kilikan jilatan di itilku. Dia makin bersemangat karena eranganku. Tiba2 dia melepaskan jilatnnya, segera dia melepaskan semua pakaiannya. batangnya yang besar dan panjang sudah sangat keras. Aku heran, bapak nya punya batang yang luar biasa, kenapa suamiku batangnya udah kecil letoy lagi. Jangan2 dia anak pungut kali ya, batinku.

Dia segera menaiki tubuhku yang sudah telentang pasrah, siap untuk dienjot, dia membasahi kepala batangnya dengan ludahnya kemudian ditempelkan ke bibir mekiku dan langsung ditusuk masuk. "Hhgghh.." sekali lagi aku mengejang kali ini oleh sodokan batangnya. Tapi karena sudah cukup siap, dengan mudahnya dia menancapkan batangnya ke dalam mekiku. Aku menggelepar ketika menyambut masuknya batangnya yang cepat amblas ke dalam mekiku. Begitu tertanam didalam, aku menahan pinggangnya agar sodokannya jangan terus berlanjut. Dia menungguku sampai sudah siap, baru batangnya dienjotkan keluar masuk pelan2. Mula2 terasa aneh ketika batangnya mulai memompa mekiku, terasa banget batangnya yang besar menyeruak masuk mengisi lobang mekiku yang terdalam. "Hhsssh, dalemm bangett Paah.." spontan keluar eranganku. "He.ehh.. tapi kan nggak sakit?" tanyanya. "enggak kok Pah, malah nikmat banget rasanya", jawabku terengah. Dia terus mengenjotkan batangnya keluar masuk, aku merangkul lehernya dan kedua kakiku membelit pahanya. "Gimana rasanya.. nggak sakit kan?" "Nggak.. enak malah Pah, geli sampe ke dalem-dalem sini." jawabku sambil mengusap-usap perut atasku. "Apanya yang enak?" "Ngg.. batang papah.." jawabku. Dia makin gencar mengenjotkan batangnya keluar masuk sehingga aku makin menggeliat saking nikmatnya. "Paah ennakk Paaah.. Iyya.. Duhh dalem bangett masuknya Paah..Aaa.. dikorek-korek gitu Sintia pengenn kluarr. Ayyo Pah.. adduuh", erangku gak karuan. ".. Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak mekimu Sin.. Papah juga mo kluaarr.. sshmmmh.." "Hhsss.. aduuhh tobatt Paah.. hahgh ooghh.. batangnya kok masuk dalem sekali Pah, gedee sekalli, aduuh.. Pah.." batangnya makin dipompa keras2, nikmat banget rasanya. Heg.. yaang kerass Pah.. shh iya gittu..aduh..ssshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo Paak.. aaahgh.. sshgh.. Iyya Pah, Sintia udah mo nyampe.. aduhh.. hghshh.. hrrgh.." Dia meremas2 tetekku, sampai akhirnya akupun nyampe. Dadaku membusung, seolah-olah tubuhku terangkat-angkat oleh tarikannya yang meremasi kedua tetekku. Tapi menjelang tiba di saat dia muncrat, dia mencabut batangnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik kedua lenganku sehingga aku ikut bangun terduduk.Dia menekan kepalaku ke arah batangku yang tegang mengangguk2 berlumuran cairan mekiku. "Ayo Sin isepin sampe keluarr.." Tanpa ragu-ragu aku langsung mencaplok dan mengocok batangnya dengan mulutku. Tidak bisa semua, hanya tertampung kepalanya saja dimulutku, tapi ini sudah cukup membuat dia muncrat di mulutku. Aku agak tersedak karena semprotan maninya yang tiba2, dia terus menekan kepalaku supaya tidak melepaskan kulumanku sehingga maninya tertelan olehku. Setelah keluar semua, aku melepas mulutku, langsung meringis. "Kenapa Sin, nggak enak ya rasanya?" tanya nya geli. "Asin rasanya Pak.." jawabku ikut geli. "Maaf ya? Terpaksa Papah tumpahin di mulut, soalnya kalo di mekimu nanti jadi lagi." "Nggak pa-pa, sekali-sekali buat pengalaman baru kok.." "Kalo sering-sering emang kenapa?" "Emang enak sih dikeluarin pake mulut?" kataku sambil bergerak bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini. "Oo.. sama kamu sih pasti enak aja." jawabnya sambil ikut bangun menyusulku.

di kamar mandi, dia memelukku dari belakang, aku belum sempet bebersih ketika tangannya mulai meremas tetekku, pentilnya diplintir2 sambil menciumi kudukku. aku menggelinjang kegelian. Aku mencari batangnya, astaga, sudah mulai tegang lagi rupanya. kuat banget dia, baru aja muncrat di mulutku sudah mulai ngaceng lagi. "Kuat banget sih Pah, baru Sintia emut sampe muncrat udah ngaceng lagi", kataku. "Iya tadi kan muncrat dimulut kamu, sekarang pengen muncrat di meki kamu", jawabnya sambil terus meremesi tetekku. Leherku terus saja diciumi, dijilati dengan penuh napsu. Akupun tidak tinggal diam, batangnya yang makin keras aku remes dan kocok2 biar sempurna ngacengnya. "Pah, Sintia isep lagi ya", kataku sambil jongkok di depannya. Ujung batangnya kujilati dan kemudian giliran kepala batangnya, terus ke pangkalnya, kemudian ke biji pelernya. Dia mengangkat kaki kanannya supaya aku mudah menjilati batangnya. Kemudian jilatanku naik lagi keatas, dan kepalanya langsung kukulum. Kepalaku mengangguk2 seiring keluar masuknya batangnya dimulutku, sambil ngisep, biji pelernya aku elus2. "AAh Sin, nikmat banget deh", erangnya. Dia memegang rambutku dan mendorong batangnya keluar masuk mulutku dengan pelan. Sepertinya dia udah tidak tahan lagi, aku diseretnya keluar kamar mandi dan ditelentangkan di ranjang. Pentilku menjadi sasaran jilatannya, jilatan berubah menjadi emutan, bergantian pentil kiri dan kanan. kemudian jilatannya turun ke perut, kemudian ke pusar sampe akhirnya ke buluku. Jarinya mulai mengelus bibir mekiku, kemudian jilatannya mulai menjelajahi mekiku yang sudah basah kembali. Jilatannya tidak langsung ke itilku tapi berputar2 sekitar mekiku. ke daerah paha, terus kedaerah pantat dan naik lagi. "Pah, nakal ih", desahku, napsu sudah kembali menguasaiku. Jilatannya diarahkan ke itilku sambil memasukkan jarinya ke mekiku. dia menggerakkan jarinya keluar masuk mekiku. "Paah", desahku saking napsunya. pinggulku menggeliat kekiri kekanan.

Akhirnya sampailah saat yang kutunggu2, dia menaiki badanku, ditindihnya aku, batangnya diarahkan ke mekiku yang sudah basah banget. Kepalanya diusap2kan dibibir mekiku. Aku mengangkat pantatku ke atas sehingga bless masuklah kepala batangnya membelah bibir vaginaku.Dia mulai mengeluar masukkan batangnya ke mekiku, pelan2, makin lama makin cepat, sampe akhirnya dengan satu enjotan yang keras, seluruh batangnya nancep dalem sekali di mekiku. "Paah, nikmat sekali", jeritku. Aku menggelinjang makin gak beraturan seiring dengan enjotan batangnya keluar masuk mekiku dengan cepat dan keras. Kakiku menjepit pinggulnya, kemudian diletakkan di pundaknya, dia pada posisi berlutut, makin terasa gesekan batangnya ke dinding mekiku, nikmat banget. mekiku mulai berdenyut2 meremes2 batangnya yang teruis bergerak lincah keluar masuk. "Pah, Sintia udah mau nyampe nih, terus enjot yang keras pah, aah", erangku lagi. Dia makin semangat mengenjot mekiku.

Tiba2 dia berhenti dan mencabut batangnya, "Paah", protesku. ternyata dia pengen ganti posisi. aku disuruhnya nungging dan kembali batangnya melesak masuk mekiku dari belakang, doggie style. pantatku dipeganginya sementara dia mengenjotkan batangnya keluar masuk. tetekku yang berguncang2 seirama dengan enjotan batangnya diraihnya, diremes2nya, pentilnya diplintir2, menambah kenikmatan yang sedang mendera tubuhku. "Terus paah", erangku lagi, aku mencengkeram seprei dengan kuat saking nikmatnya. aku memaju mundurkan badanku supaya batangnya nancep dalem sekali di mekiku, sampe akhirnya, "Terus paah, Sintia nyampe lagiii". Dinding mekiku berdenyut2 mengiringi sampenya aku, dia terus saja mengenjot mekiku dengan cepat. Aku neklungkup, capai banget rasanya meladeni napsunya mertuaku ini. Dia membaringkan dirinya, batangnya masih tegak berdiri berlumuran cairan mekiku. "Sin, kamu yang diatas ya, papah belum keluar neh", pintanya.

Aku menempatkan diriku diatasnya, batangnya kupegang dan langsung kutancapkan ke mekiku, badan kutekan kebawah sehingga langsung aja batangnya ambles semua di mekiku. Aku mulai menggoyang pinggulku, kekiri kekanan, maju mundur, berputar2. biar cape, tapi nikmat banget rasanya gesekan batangnya ke mekiku. tetekku diremes2nya sambil memlintir2 pentilnya. aku merubah gerakanku menjadi keatas kebawah mengocok batangnya dengan mekiku. "Pah, nikmat banget pah", erangku. Akhirnya aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi, aku ambruk didadanya karena nyampe untuk kesekian kalinya. "Pah, belum mau muncrat ya, Sintia lemes pah", desahku. "Tapi nikmat kan", jawabnya. "Nikmat banget pah".

Dia berguling tanpa mencabut batangnya dari mekiku sehingga sekarang dia ada diatasku. dia mulai lagi mengenjotkan batangnya keluar masuk mekiku. kuat banget ya untuk orang seumur dia, mungkin dia makan obat kuat. tapi aku gak perduli dengan hal itu, yang ada sekarang aku menikmati saja nikimatnya gesekan batangnya di mekiku. "Sin, udah mau muncrat, didalem ya", erangnya sambil mempercepat enjotannya. "muncratin di dalem aja pah, kan papah pengen muncrat di dalem mekinya sintia", jawabku terengah. Dia terus mengenjotkan batangnya keluar masuk mekiku, sampe akhirnya, "Siin", erangnya. terasa sekali semburan maninya membanjiri mekiku. Kami berdua terkulai lemas.

1 comments:

Post a Comment